Home » » Kecerdasan Fotografi Julian Sihombing

Kecerdasan Fotografi Julian Sihombing

Kecerdasan Fotografi Julian Sihombing

Tulisan Klik! kali ini memang berbau obituari. Obituari fotografis tepatnya, yaitu membicarakan seorang fotografer hebat yang baru saja meninggalkan kita: Julian Sihombing.

Suatu hari pada tahun 1992, Julian mengajak saya meliput balap motor di Sirkuit Sentul, Jawa Barat. Banyak pebalap top dunia datang sehingga tentu saja banyak sekali fotografer yang memotretnya. Seperti biasa, semua fotografer mencari posisi terbaik untuk memotret, dan saat itu kami semua tidak melihat Julian. Entah di mana dia berada untuk memotret.

Semua fotografer berusaha mendapatkan adegan terbaik, antara lain adegan pebalap terjatuh dari sepeda motornya. Beberapa tikungan yang ”mengerikan” dipenuhi fotografer. Namun tak satu pun yang mendapatkan foto pebalap terjatuh dari sepeda motor.

Saat kembali ke kantor, Julian memamerkan cetakan foto-foto yang didapatkannya (waktu kami masih memakai film hitam putih, dan dicetak dulu sebelum masuk surat kabar). Saya heran melihat Julian mendapatkan beberapa gambar pebalap terjatuh.

”Kalian semua menunggu di tikungan tajam. Semua pebalap pasti menginjak rem. Kalau mau dapat pebalap jatuh, tunggulah di tikungan yang landai, pasti banyak yang lalai,” papar Julian.

Semua dipikirkan
Julian merancang dengan baik semua foto yang dihasilkannya. ”Foto harus sudah jadi sebelum dipotret”, demikian ”aliran fotografi” Julian yang didapatkannya dari seniornya, Kartono Ryadi (juga sudah almarhum).
Lebih jauh, Julian punya pemahaman lain pada fotografi yaitu: ”Usahakan fotomu sungguh berbeda dengan orang lain.”

Itu sebabnya, tiap memotret Julian hampir selalu menghindar untuk berdiri bersama-sama fotografer lain. ”Bukan sombong, tapi apa bagusnya semua koran punya angle yang sama pada fotonya,” katanya.
Maka, lahirlah foto Arafat dan Soeharto duduk dalam bus, sementara fotografer lain memotret adegan keduanya bersalaman saja. Juga foto Perayaan Hari ABRI tiap 5 Oktober, pun bisa tampil menarik. Adapula pertandingan gulat pada PON 2000, sungguh unik.

Pada tahun 1996, saat Ibu Tien Soeharto meninggal dunia, Julian-lah yang ditugaskan untuk memotret upacara pemakamannya ke Surakarta. Saya ingat benar Julian menelepon dan berkata: ”Gua dapat foto Pak Harto nangis. Tapi pasti Kompas tak berani memuatnya deh...”
Julian menceritakan proses bagaimana mendapatkan foto itu, yang tentu saja dramatis, terutama kalau mengingat bagaimana ketatnya ”ring satu” Soeharto saat itu.

Upaya untuk selalu punya foto berbeda pula yang membuat Julian hampir selalu kembali ke kantor melewati waktu yang diharapkan. Saat terjadi penembakan mahasiswa Trisakti pada Mei 1998, Julian-lah yang sedang bertugas di sekitar Universitas Trisakti. Saya yang menjabat sebagai redaktur fotografi pada waktu itu, sebenarnya sudah memintanya pulang ke kantor untuk saya gantikan pada pukul 13.00. Tapi Julian saat itu bersikeras bertahan karena dia merasa ”akan terjadi sesuatu”. Dan instingnya ternyata benar!
Foto karya Julian pada Tragedi Trisakti itu adalah foto yang sangat monumental, meskipun gadis terkapar pada fotonya sebenarnya terluka pun tidak.

”Aku sedang makan bakso saat terjadi penembakan. Tiba-tiba aparat keamanan berlarian di mana-mana. Aku masih mengunyah bakso dan berlari sambil membawa mangkuk saat aku diusir mereka. Tapi kameraku sudah siap pakai, jadi aku memotret sambil berlari,” paparnya.
Semua kini tinggal kenangan. Bagaimanapun, Julian memang salah satu fotografer terbaik yang pernah ada di dunia ini.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan Klik Disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Planet Foto Indonesia

1 komentar :

  1. photographer hebat, seperti aku selalu melukis lukisan bagus dan art dahulu sebelum melukis dikanvas.

    BalasHapus

 
Website Ini Dilindungi Oleh DMCA Protection
Copyright © 2013. Planet Foto Indonesia - All Rights Reserved
Plubished By Facebook | Twitter Planet Foto
Proudly Powered By Blogger